Alhamdulillah,
21 Oktober yang lalu Cinta genap 6 bulan dan lulus ASI eksklusif.
Gak berasa walaupun cukup pontang-panting juga.
Flash back ah..
3 minggu menjelang cuti melahirkan berakhirSaatnya latihan minum ASI dari sendok. Aku beli sendok khusus yang bahannya lentur, lembut dan ujungnya nggak tajam.
Berdasarkan bahan-bahan yang aku baca, yang memberikan ASI perah ini harus orang lain, bukan aku. Supaya Cinta tidak bingung nantinya. Jadi dia taunya kalau dari aku pasti langsung, sedangkan yang disendokkan adalah dari orang lain.
Kami bingung antara mencari baby sitter atau PRT. Pertimbangannya, tidak ada jaminan baby sitter akan lebih baik. Mungkin lebih pintar sedikit, tapi soal jujur atau tidaknya ya sama saja. Aku sedikit takut ketika baca posting seorang blogger, yang baby sitternya mengadu ke yayasan dan minta pulang karena makanannya makanan kemarin. Padahal makanan tersebut masih layak makan dan seisi rumah makan makanan yang sama. Mereka juga menuntut kamar sendiri dll. Oh my. Ribet, apalagi dengan situasi rumah Cilandak yang serba kecil.
Pagi-pagi, ibu Haji tetangga kami mengantarkan seseorang yang sedang cari kerja. Alhamdulillah, aku coba deh.
Mulailah Cinta disuapi ASI oleh si mbak. Sayang, sepertinya mbak ini gugup. Sampai keringatnya menetes (untung bukan ke ASI!). Besoknya dia mundur, dengan alasan tidak bisa mengurus bayi. Okay.
PRT berikutnya dibawakan kakakku dari Banten. Ini lebih tertib, telaten mengurus anak dan cantik! Kata orang mirip Nabila Syakieb..hehe.. gak penting deehh
Aku perhatikan kami semua ternyata blo'on deh urusan suap menyuap ASI ini. Akhirnya kami putuskan untuk ke Carolus. Si Mas ambil cuti, dan pergilah kami di hari kerja (supaya tidak penuh) ke klinik Laktasi Carolus.
Baru kali ini ke Carolus. Rumah sakitnya sudah tua, jadi inget RSU Balikpapan yang di Gunung Sari. Tapi perawat nya canggih-canggih. Sewaktu Cinta di timbang, perawat minta semua pakaian dan diapers dibuka. Ribet sih, tapi aku senang karena dapat hasil berat yang akurat (semoga timbangannya bener hehe).
Aku ditanya apakah ingin konsultasi dengan dokter atau bidan, kalau dokter aku harus mengantri. Menurut seorang teman, bu bidannya lebih enak karena gak sungkan-sungkan. Dokter sedikit ja'im. Jadi aku pilih ke bu bidan.
Menunggu gak berapa lama, aku dipanggil masuk ke ruangan sederhana. Aku diberi tahu hal-hal mendasar tentang menyusui dan bahwa sudah tepat untuk berkonsultasi 2 minggu sebelum masuk kerja, jadi bayi mulai latihan minum ASI tidak langsung.
Pelajaran memerah, ternyata praktek langsung, jadi bu bidan langsung memerah dan menunjukkan bahwa hasilnya bisa banyak. Setelah itu diajari pijat ASI dengan 3 gerakan masing-masing 30 kali, diakhiri kompres air hangat-dingin selang-seling 10x. Hadawww deh rasanya.
Kemudian mbak ku, dua-duanya diminta masuk untuk dilatih meminumkan ASI. Jadi sekarang tidak pakai sendok lagi karena baik bayi maupun mbak nya harus sabaaaar banget. Suster mengenalkan mug kecil seperti untuk minum obat batuk ukuran 30 ml, merek nya Medela. Ada lengkung yang cocok untuk ukuran mulut bayi disitu, jadi pas untuk diminumkan. Harganya Rp.10.000. Aku juga beli botol kaca untuk menyimpan ASI, harganya Rp.2500 kalau gak salah.
Aku jadi sedikit lebih tenang.
Hari berikutnya Cinta mulai latihan minum dengan mug medela. Aku lihat koq beberapa kali tersedak ya. Haduuuhh gimana duong. Si Mbak yang dari Banten juga mulai terserang penyakit malarindu tropikangen sama pacarnya. Akhirnya dia kami pulangkan dengan segala perjuangan kakakku nganterin dia ke kampungnya di Banten sana. Dooohh bilang kek kalo cuman pengen jalan-jalan ke Jakarta!
Mbak yang satu lagi aku mulai latih meminumkan ASI ke Cinta. Koq tetap susah ya, banyak terbuang dan sering keselek - aku khawatir jadinya.
Mulai deh mikir untuk meminumkan dengan botol. Temen-temen se'angkatan' melahirkan ternyata menyerah.. gak bisa pakai sendok / mug karena repot banget, orang rumah protes dll.. kalau aku sih aku takuuut banget Cinta keselek kalau pakai mug sementara kalau pakai sendok.. sudah dicoba ternyata susah banget, Cinta ngamuk gak sabar dan mbak nya jadi gugup. This happen to 3 assistant of mine dan nyari mbak tuh di Jakarta sekarang susah banget.. mereka berpindah dengan entengnya.
Setelah aku baca-baca lagi,.. resiko bingung puting akan terjadi kalau bayinya diatas 4 bulan - cmiiw- dan yang penting adalah jangan sampai kita yang memberikan botol. Bayi itu pintar, dia hafal yang mana ibunya dari bau (wangi kali! ) dan suara.
Bismillah.. akhirnya Cinta minum ASI pakai botol! Mungkin bukan contoh yang baik yaaaaa... ibu lain sebaiknya pakai sendok atau mug deh.. ini semua karena keterbatasanku, juga dua rekan lain dengan kondisi sama juga belajar dengan botol dah alhamdulillah gak bingung puting.
Aku mulai stok ASI di botol-botol kaca dari Carolus dan setelah aku pikir-pikir, botol bekas selai juga bisa kan? ok. Trus botol UC1000, tutup nya diganti dengan tutup Zestea (karena tutup UC1000 seng, takut karatan). Kalau tutup minuman yang lain gak pas. Sosro green tea juga katanya pas tapi aku belum coba. Botol ini enaknya lubangnya pas banget jadi ASI gak nyemprot-nyemprot kemana-mana waktu diperah. Aku juga siapin plastik Gerber, waktu itu Rp.50rb isi 25, just in case...
Satu minggu menjelang kerjaKami ke Bandung!
Untuk refreshing deh... Insya Allah mbak yang sekarang akan bawa temannya untuk kerja jadi kami ada 2 PRT untuk jaga anak dan rumah. Pasrah, berangkat deh. Senin nya sudah masuk kerja.
Jadi Cinta punya waktu sabtu, minggu untuk belajar minum.
Hari HAkhirnya hari yang di'takut'kan itu datang juga.
Aku menyiapkan 5 botol ASI yang diberi nomor, nomor 1 - 5. Di dinding aku tuliskan nomor botol dan isinya. Si Mbak aku minta menuliskan disampingnya, jam berapa diminumkan dan habis atau tidak. Kalau nggak habis, dia aku minta menulis berapa sisanya. Ini untuk bekalku menentukan berapa kira-kira yang akan disiapkan untuk esok hari.
Jadi aku buat begini
1. 90 ml
2. 100 ml
3. 100 ml
4. 100 ml
5. 100 ml
Karena kami mau pindah rumah, aku putuskan kali ini aku gak akan pulang ke rumah di jam makan siang. Nanti Cinta terbiasa menyusu di jam tersebut dan akan susah kalau nanti pindah, karena lokasi rumah baru jauh bo. Takutnya seperti Ryan dulu, di atas jam 11 dia sudah nggak mau minum susu botol lagi.
Aku ke kantor dengan membawa gelas tupperware untuk ASIP. Tempat memerah, aku sudah berencana untuk memakai ruang ganti teknisi wanita karena memang untuk satu orang jadi gak ada penonton. Disitu juga ada washtafel.
Jam 10, aku mulai memerah. Senangnyaaa karena dapat banyak.
Aku memerah lagi setelah makan siang dan jam 4 setelah sholat Ashar.
Dari 3 waktu itu gelas besar itu penuh. Mungkin hampir 500 ml. Oh Senang!
Dari posisi bersila di lantai aku bangkit, tapi mungkin karena antara terlalu bersemangat dan juga kepingin buru-buru balik kerja, gelasku menyenggol gantungan handuk!! dan tumpahlah semua hasil perahanku hari itu. !!
Huaduuuuhhhh... rasanyaaaa...
Dan ternyata ruangan kecil itu jadi bau banget. OB sudah ngepel pakai air panas, pewangi dll masih juga tercium bau menusuk itu. Duh maaf ya ..
Labels: ASI